Kamis, 17 Juli 2014

Celaka Senja

Oleh: Heru Jast

Sore itu kami bermain futsal dilapangan indoor. Melewatkan senja yang biasanya memerah diujung barat. melewatkan angin yang biasanya berhembus melewati persawahan. Kesejukan yang senantiasa menyetuh kulit kami yang terbiasa kesana setelah mandi sore. Tempat biasa kami bercanda untuk sekedar menunggu magrib tiba.
Sore itu langit sedikit berbeda. Dari pintu masuk lapangan terlihat lebih gelap dari biasanya. Angin yang berhembuspun lebih kencang dari biasanya. Kesejukan yang biasanya terasa berganti dengan udara dingin yang menusuk kulit kami. Menjadi semakin dingin karena keringat yang keluar dari tubuh kami belum kering.
“wah, nampaknya sebentar lagi bakalan hujan deras ni” suara rici dari luar terdengar memberitahu kami yang masih di dalam berganti pakaian setelah futsal.
“ayo, buruan gantinya lama amat sih, keburu kujanan nanti” rici meminta kami untuk mempercepat ganti pakaiannya.
“siap boss” aku membalas dengan nada keras. lalu segera beranjak keluar bersama teman-teman yang baru selesai berganti pakaian.
aku berjalan mendekati rici “Loe takut sama hujan ya ci?”
“takut sihh enggak, cuma masalahnya anginnya kenceng banget ni, bakalan deras ni hujan”
“santai aja napa, hujan kan teman kita, hahahaha”..kami semua tertawa mendengar ocehan zain yang terlihat santai diatas vespa klasiknya.
Apa yang dikatakan oleh zain ternyata benar. Hujan adalah teman kita. Lebih tepatnya teman petualang. Kami seperti berpetualang untuk mencari siapa yang paling cepat. kami yang lebih cepat atau hujan yang lebih cepat daripada kami. Lalu menembaki kami dengan butiran air layaknya peluru yang diberondongkan oleh pesawat tempur jepang diperang dunia kedua. Hanya bedanya kami tidak akan terbunuh karena peluru-peluru yang mengenai tubuh kami.
Lampu-lampu perkampungan yang padam menambah seru tapi sekaligus menegangkan disepanjang perjalanan pulang. Angin yang berhembus kencang seolah-olah ingin menerbangkan kami. Kami harus berhati-hati untuk menjaga keseimbangan. Daun-daun yang berjatuhanpun sesekali menampar muka kami.
Bressssssssss……
Hujanpun turun mengalahkan kami. memaksa kami menepi diemperan toko untuk berteduh.
“woey berteduh” teriakan ibnu mengajak kami berhenti menghindari hujan yang turun deras sekali.
“busyet, deras sekali. keroyokan pula” canda zain sesaat setelah kita berteduh.
“katanya hujan adalah teman” rici menimpal sambil sedikit ketawa.
“wah, kalo deras kaya gini bukan teman namanya,tapi temen makan temen ini”
“hahahaha” kami semua tertawa mendengar pembelaan zain atas teori hujannya.
Sekarang kami jadi tahu bahwa tidak semua hal bisa dikalahkan. Hujan tak mungkin bisa dikalahkan. Segala hal yang berkaitan dengan alam hanya bisa pahami. Mungkin ada benarnya kalo hujan bisa menjadi teman petualang, asalkan tidak deras dan tidak datang bersama angin yang kencang. Kita hanya bisa menunggu sampai hujan mereda. Atau setidaknya sedikit mereda untuk melanjutkan perjalanan. Melatih kesabaran dan kreatifitas ditengah kejenuhan ditepian jalan.
Sudah hampir satu jam kami disini. Segala macam cara sudah kami lakukan untuk mengusir kejenuhan. Ngomongin pacar, tebak-tebakan, sampai up-date status facebook kejebak hujan.
“Nekad aja yukk, lumayan reda lho” Kali ini sikutu buku Aer yang meminta.
Kami mengiyakan ajakannya, karena waktu semakin malam. Kami sudah tidak bisa menunggu terlalu lama. Bisa kena marah orang tua kami kalau sampai kemaleman sampai dirumah.
“are you ready, guys”  Teriak Zain
Jalanan menjadi semakin gelap. Mata kami semakin terbatas untuk melihat jalan didepan. Jalanan yang basah dan air hujan membuat lampu kami tidak seterang biasanya. Memaksa kami untuk sedikit menggunakan naluri biar tidak melintas dijalan yang berlubang..
Brakkkk….
“woy, hati-hati”
Aer yang bonceng sama rici berteriak memintanya untuk berhati-hati
“Haha Perasaan kemarin itu lubangnya bukan disebelah situ dehh” Canda Rici.
Hujan kembali deras, tapi kami sudah tidak peduli. Tubuh kami sudah terlanjur basah. Hanya laju motor yang kami pacu lebih cepat untuk segera sampai dirumah..
Brakkkk..kali ini suaranya lebih keras daripada saat rici melintas dijalan yang berlubang tadi. Ketika kami melewati tikungan ternyata Uzan dan Ibnu Jatuh terperosok sampai kepinggiran sawah ditepi jalan bersama motor mereka. Jalanan yang licin akibat air hujan dan kecepatan motor yang lumayan cepat membuat kami sangat khawatir. Kami semua panik dan segera berhenti lalu berlari untuk menolong mereka berdua.
“astaga” teriak yoga yang pertama melihat kondisi mereka berdua. kami semakin cepat berlari dan mendapati mereka berlumuran darah. Mulut fauzan berdarah banyak sekali. sementara ibnu mengeram kesakitan sambil memegang lulut kanannya.
Kami semua bingung melihat kondisi mereka berdua, pelan pelan kami berusaha untuk mengangkat mereka keatas. Jalanan yang gelap membuat segalanya menjadi semakin sulit. Jalanan yang jauh dari perkampungan membuat teriakan kami sia-sia tak ada satupun orang yang bisa mendengarnya.
“Bagaimana ini” rici terlihat sangat kebingungan
“kita bawa kerumah sakit”
“tapi gak mungkin dengan kondisi mereka seperti ini kita bawa dengan motor”kata-kata rici semakin membuat kami semua panik.
april berlari ke motornya “aku akan kekampung terdekat untuk minta pertolongan, setidaknya ada mobil yang bisa membawa mereka kerumah sakit”
“cepetan pril” sambil terus memegangi kaki ibnu,aku meminta april untuk lebih cepat mendapat bantuan.
April bergegas meninggalkan kami.
Darah yang keluar dari mulut fauzan membuat kami semakin panik. sakit sekali rasanya jika kami melihat raut wajahnya yang menahan perih.
Dari kejauhan terlihat lampu mobil yang menyala sedang menuju ketempat kami. Hujan masih turun lumayan deras waktu itu. butiran hujannya terlihat dari cahaya lampu mobil yang semakin dekat dengan kami. Sementara badan kami terasa mulai menggigil dibalik baju kami yang basah. Entah ketakutan melihat kondisi mereka atau kedinginan hampir tak bisa membedakan.
Sesaat setelah mobil sampai, kami segera mengangkat mereka berdua kedalam mobil. lampu didalam mobil membuat jelas sekali luka mereka. Muka Uzan yang berlumur darah membuat kami merinding. sementara ibnu terus memegangi lututnya yang rasanya mengalami keretakan.
Mereka berdua akhirnya dibawa kerumah sakit. Rici dan Yoga menemani mereka dimobil. aku dan Aer ngurusin motor untuk dibawah kerumah april. Dengan bantuan temen april yang sebelumnya kami minta untuk datang ketempat kami. kami harus cepat berpacu dengan waktu untuk sesegera mungkin menyusul mereka kerumah sakit.
Sementara zain dan april yang akan pergi kerumah orang tua uzan dan ibunu untuk memberitahukan kabar ini. tak ada nomor HP yang bisa kami hubungi. mereka pun bergegas meninggalkan kami.
aku dan air langsung menuju rumah sakit setelah membawa sepada kerumah april. Sesampainya dirumah sakit terlihat rici dan yoga sedang duduk diruang tunggu UGD. Wajah mereka terlihat sangat lelah dan khawatir.
tidak lama kemudian menyusul april dan zain bersama kami. diikuti oleh orang tua uzan dan ibnu dibelakang mereka. terlihat rauh wajah yang sangat cemas dari mereka.
Pak leo yang pertama menghampiri kami untuk menanyakan kondisi mereka. ayahnya uzan yang terlihat lebih tenang dari yang lainnya.
“bagaimana kondisi mereka, pril”
April yang sudah mengenal dengan baik pak leo kemudian berdiri dan lansung menjelaskan.
“mereka berdua masih di UGD om, sedang ditangani oleh para dokter”.
“ceritanya bagaimana kok bisa jatuh” sambil menyalakan tembakau pak leo kembali bertanya.
“mereka terpeleset jatuh kepinggiran sawah om, terpeleset karena jalanan licin dan gelap”
tidak berapa lama, setelah perbincangan pak leo dan april akhirnya kedua dokter yang menangani merekapun keluar.
“ada keluarganya Uzan dan Ibnu”
“iya dok, kami keluarga mereka” pak leo berdiri sambil membuang tembakau yang belum sepenuhnya terhisap.
“bagaimana dengan kondisi anak saya dan temannya dok”
“mereka berdua harus segera dioperasi, karena uzan mengalami retak tulang rahang semantara ibnu mengalami keretakan dikaki kanannya”
sambil menyodorkan surat persetujuan operasi pak dokter menjelaskan kondisi mereka kepada pak leo.
“lakukan yang terbaik buat mereka dok”tanpa pikir panjang pak leo menyetujui dan meminta surat persetujuan untuk ditandatangani.
“Iya dok” begitu juga dengan pak iman ayahnya ibnu yang berjalan mendekat kearah pak dokter.
Tak berapa lama pak dokterpun segera kembali kedalam untuk segera melakukan operasi.
Pak leo dan Pak imam kemudian berjalan ketempat duduk didekat kami. bersama-sama kami hanya bisa berdoa semoga operasi meraka berjalan lancar.
hujan diluar tidak lagi deras, hanya rintik kecil yang masih terlihat dari kaca jendela. wajah-wajah cemas terlihat diantara kami yang menunggu kabar selanjutnya.
aku berjalan keluar untuk sejenak menenangkan diri ditengah kecemasan mereka. sampai diluar aku berdiri dan bersandar ditiang bangunan yang berada didepan ruang tunggu. memegangi kepala menyesali apa yang baru saja terjadi. seandainya kami mau menunggu sampai hujan reda diemperan toko mungkin ceritanya bisa lain.
hampir dua jam kami semua menunggu. dari yang duduk sampai yang berjalan mondar-mandir kebingungungan didepan ruang tunggu. kedua ibu mereka yang terlihat sangat cemas hanya bisa duduk terdiam didalam. Sesekali berbincang lirih silih berganti. teman-teman yang lain entah apa yang mereka pikirkan saat ini.
Pak dokter yang kami tunggu pun akhirnya muncul untuk memberi tahu proses operasi yang sudah dilakukan.
“operasi berjalan lancar, mereka berdua sedang menuju ruang perawatan”
“alhamdulilah” kami semua bersyukur mendengar kabar itu.
Tak lama kemudian pak dokter segera meninggalkan kami. Sementara pak leo dan pak imam beserta kedua ibu mereka bersiap menuju ruang perawatan untuk melihat mereka.
Pak leo berjalan mendekati kami.
“sebaiknya kalian pulang saja dulu, hari sudah malam orang tua kalian pasti cemas menunggu kalian pulang”
“kami ingin melihat mereka dulu pak” april mewakili kami
“besok saja kalian datang kesini, baju kalian juga basah nanti ndak malah sakit”
“baiklah pak, kami semua mohon pamit”
Satu per satu dari kami berpamitan kepada mereka kemudian meninggalkan rumah sakit untuk pulang kerumah.
Senja yang kami rasa berbeda menjadi terasa sangat berbeda. Kami tidak mengira mereka berdua akan mengalami ini. Senja yang biasanya bercerita indah tentang kami kini berganti senja yang menceritakan lara bagi kami. Kedua teman kami terluka disenja celaka.
Senja Celaka, untuk mereka yang terluka karena jatuh cinta sama bola

Tidak ada komentar:

Posting Komentar