Kamis, 17 Juli 2014

Potret Buram Sepakbola Indonesia

Oleh: Heru Jast
Sepakbola Dan Sila Ke-tiga Pancasila

Tawuran antar suporter, perkelahian antar pemain, pemukulan wasit dan segala macam kecurangan dalam pelaksanaan sepakbola adalah bukti buruknya kompetisi sepakbola indonesia. Apa penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan tentunya adalah para pelaku itu sendiri, mulai dari pengurus, pelatih, pemain dan juga suporter. Kemenangan adalah tujuannya sementara proses yang terlupakan. Harapan menang yang tinggi yang tidak diimbangi dengan integritas yang tinggi maka jadilah liga yang seakan terkesan berjalan tanpa standar dan aturan yang jelas.
Menurut saya, salah satu penyebab buruknya kompetisi liga indonesia adalah rendahnya pendidikan dari para pelaku kompetisi. Tidak sedikit pemain yang mengabaikan pendidikan setelah berhasil menjadi pemain sepakbola profesional. Hal itu berpengaruh terhadap mentalitas dan perilaku baik dilapangan maupun diluar lapangan. Nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga sepertinya terabaikan hanya untuk mengejar kemenangan semata. Kita harus ingat bahwa sejatinya sepakbola bukan hanya tentang bagaimana meraih  kemenangan akan tetapi yang lebih penting lagi adalah sportivitas dan fair play didalam prosesnya.
Kerusuhan,pemukulan,perkelahian adalah bukti bahwa kita belum memiliki kedewasaan dalam bermain sepakbola,kemenangan seperti harga mati tak bisa ditawar apapun caranya. sehingga nilai-nilai sosial dalam sebuah pertandingan terabaikan. karena cara berpikir dan bersikap dilapangan kurang memadai untuk menghadapi tuntutan prestasi.
Mengapa pendidikan berpengaruh terhadap pelaksanaan kompetisi. Menurut seorang filsuf  Amerika Selatan Paulo Freire, sejatinya pendidikan bertujuan sebagai sarana untuk membebaskan, mendewasakan dan menyadarkan. Dengan demikian para pemain bukan hanya terampil dalam bermain sepakbola akan tetapi juga memiliki visi dan misi yang jelas serta kedewasaan ddalam bermain, mampu menalar terhadap masalah-masalah yang ada dilapangan serta bertanggung jawab terhadap perilaku dan perbuatannya diatas lapangan.
Kita bisa berkaca pada kompetisi dieropa yang notabene pelaksanaan liganya adalah yang terbaik. Disana banyak sekali pemain-pemain hebat yang tidak melupakan pendidikannya. Sebagai contoh kita bisa lihat Giorgio Chielini bukan hanya terampil dan hebat sebagai pemain bertahan klub juventus dan Italy tapi dia juga seorang pemain yang bergelar doktor. banyak pula pemain di eropa yang bergelar sarjana misal,Oliver Bierhoff, Frank Lampart,Pablo Aimar.
Baru-baru ini kita mendapat kabar baik Timnas U-19 yang berhasil menjuarai piala AFF 2013 seluruh punggawa timnas U-19 akan mendapatkan kesempatan gratis menempuh gelar sarjana Di UNY. semoga dengan hal itu bukan hanya secara skill mereka terampil akan tetapi secara akademis mereka juga tidak melupakan. Mungkin hal ini bisa sedikit memberikan angin segar bahwa dimasa mendatang kita punya harapan untuk memiliki kompetisi liga yang lebih baik dan bermartabat karena para pemain memiliki kedewasaan yang bermain berkat pendidikan yang tidak diabaikan.

Akhir kata Forza Indonesia Jayalah Kejayaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar